Terpaut Usia Jauh, Pemuda Ini Tega Bunuh Pasangannya Menjelang Pernikahan Mereka

Sebuah kisah percintaan yang berakhir tragis kembali terjadi. Seorang pria tega menghabisi pasangan wanitanya, padahal dua bulan lagi keduanya akan menikah.

Segala persiapan pernikahan telah dilakukan termasuk foto prewedding. Namun semuanya menjadi sia-sia saat Stefanus (25) membunuh pacarnya Laura (41).

"Pada hari Rabu (2/5) (sehari sebelum kejadian) mereka melangsungkan prewedding," ucap Kapolsek Tambora, Kompol Iver Manossoh, saat dihubungi detikcom, Sabtu (5/5/2018).

Loading...

Setelah itu, pada Kamis (3/5), Stefanus cekcok dengan korban di rumah korban di Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat. Cekcok itu, berakhir pada penusukan Laura.

"Laura ditusuk di bagian tengah badan atau perut," ucap Kanit Reskrim Polsek Tambora, AKP Suprihatin, saat dihubungi terpisah.

Setelah itu, jenazah korban langsung dibawa Stefanus pergi untuk menghilangkan jejak. Mengajak beberapa orang, pelaku membawa korban ke pantai Desa Karang Serang, Tangerang untuk dibakar.
Baca juga: Stefanus Bunuh Laura karena Sakit Hati Direndahkan

"Sekitar pukul 16.00 WIB. Pelaku membawa korban ke pantai," ucap Suprihatin.

Sebelumnya, polisi menerima laporan ada mayat di dalam mobil pada Jumat (4/5). Namun, setelah dicek, mobil tersebut sudah tak ada di lokasi.

Beberapa jam kemudian, Tim Reskrim Polsek Tambora mendapat informasi ada penemuan mayat di pantai Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang. Tim kemudian bergerak ke lokasi dan menemukan bercak darah serta bekas pembakaran.

Polisi kemudian menginterogasi lagi Aziz si pelapor. Dia mengakui ikut bersama Stefanus membawa mayat korban ke pantai tersebut. Tidak butuh waktu lama, Stefanus diringkus pada Sabtu (5/5) sekitar pukul 05.00 WIB.

Penyebab Pertengkaran  

Stefanus (24) gelap mata saat merasa direndahkan oleh calon istrinya Laura (41). Dia tega membunuh kekasih yang akan dipersuntingnya pada Agustus mendatang itu dengan empat luka tusukan di bagian tubuh Laura.

Kejadian pembunuhan itu berawal dari cekcok soal biaya pernikahan yang ditanggung oleh pihak keluarga Laura sekitar RP 200 juta. Laura disebut sering kali mengungkit persoalan itu sehingga membuat Stefanus marah tak karuan.

Stefanus tak terima. Ia merasa tak berharga di depan keluarga Laura, apalagi calon istrinya itu merupakan lulusan S2 dari Australia. Sedangkan Stefanus merupakan pekerja serabutan dan belum mendapatkan pekerjaan tetap.

Keributan lalu semakin memuncak pada Kamis (4/5) lalu, tepatnya sehari setelah keduanya mengambil foto prewedding. Menurut keterangan tetangga, Stefanus dan Laura memang diketahui mempunyai temparemen yang tinggi.

"Setiap berantem, tersinggung, seolah-olah dia tidak berharga di depan calon istrinya. Selalu diungkit, seolah-olah dia tidak punya apa-apa. Itu yang bikin dia marah sampai nggak bisa kendalikan marah," kata Kapolsek Tambora Kompol Iver Manossoh saat dihubungi, Minggu (6/5/2018).

Mereka lalu cekcok di rumah Laura. Menurut Stefanus, Laura lah yang pertama kali mengambil pisau. Setelah itu, keduanya berebut pisau tersebut sampai akhirnya berhasil digenggam oleh Stefanus.

Namun entah apa yang ada di pikiran Stefanus sehingga akhirnya dia menusukkan pisau itu ke tubuh Laura. Tak tanggung-tanggung, Laura terkena empat tusukan mulai dari perut hingga punggung.

"Ada empat tusukan, (terkena) di perut, dada dan di punggung," ujar dia.

Usai Laura tewas, Stefanus panik dan membawa jenazah tersebut dengan mobil ke rumahnya di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Stefanus lalu mengajak beberapa kawannya untuk menemaninya ke pantai Desa Karang Serang, Kabupaten Tangerang.

"Keempat orang ini adalah karyawan dari paman tersangka. Mereka asal ikut saja, tidak terlibat dalam pembunuhan," papar Iver.

Rupanya Stefanus membawa jenazah itu ke pantai agar tak terlacak oleh polisi. Mayat Laura itu ditutupi oleh selimut selama di mobil agar tak ada orang yang curiga. Stefanus lalu membakar mayat kekasihnya di pantai tersebut.

Namun aksi Stefanus ini tercium oleh pihak kepolisian. Tim Reskrim Polsek Tambora mendapatkan informasi dari warga sekitar pukul 15.00 WIB bahwa telah ditemukan mayat di sekitar lokasi pantai. Jasad itu ternyata Laura.

Polisi juga sempat datang ke rumah Laura untuk melakukan penyelidikan. Ternyata pihak keluarga baru tahu tentang kejadian pembunuhan tersebut. Sang ayah kaget anaknya tewas di tangan kekasihnya.

"Ya reaksi orang tua kaget juga, kalo dilihat karena dia bilang anak perempuannya nggak pulang-pulang udah 3 hari. Rabu pagi mobil ada berarti anak saya masih ada, dari Rabu malam sampai Jumat dia nggak pulang-pulang," tutur Usman Ali Musa selaku Ketua RW 02 Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat.

Tabir pembunuhan ini pun kemudian terungkap. Polisi akhirnya meringkus Stefanus pada Sabtu (5/5) lalu. 

Kebingungan Usai Membunuh Laura

Stefanus (25) sempat berputar-putar Jakarta dengan membawa jenazah kekasihnya, Laura (41), yang tewas dia bunuh. Stefanus sebelumnya berencana membuang mayat korban di Sukabumi, Jawa Barat.

"Dia muter-muter, dia mampir ke Mal Gajah Mada. Dia sebelumnya mau buang mayat ke Sukabumi, entah bagaimana berubah pikiran ke Tangerang," kata Kapolsek Tambora Kompol Iver Manossoh saat dihubungi, Senin (7/5/2018).

Pembunuhan terjadi di rumah Laura di Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, pada Kamis (3/5) pukul 13.00 WIB. Setelah itu, dia membawa mayat Laura dengan ditutupi selimut ke dalam mobil.

"Diajaklah empat orang temannya (di Pekojan, Tambora Jakarta Barat). Dia nyampe Pekojan pukul 22.00 WIB, dibawa ke Tangerang (Jumat) pukul 01.00 WIB. Dibakar (di pantai) kira-kira pukul 02.00 WIB, subuh atau dini hari," ucap Iver.

Setelah itu, mayat Laura ditemukan oleh warga Desa Karang Serang, Tangerang, pada Jumat (4/5) sekitar pukul 15.00 WIB. Mayat tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Tangerang.

Sementara itu, Polsek Tambora mendapat laporan penemuan mayat di dalam mobil pada pukul 18.00 WIB. Pelapor bernama Aziz itu mengatakan lokasi penemuan ada di Pekojan.

"Laporan ke Polsek Tambora pukul 18.00 WIB. Kita amankan pelaku pukul 22.00 WIB malam. Jadi pengungkapan 4 jam setelah melapor," ucap Iver.

 Bekerja Serabutan 

Polisi menyebut biaya pernikahan Stefanus (24) dan Laura (41) yang rencananya digelar Agustus mendatang ditanggung oleh keluarga perempuan. Biaya pernikahan itu mencapai ratusan juta.

"Biaya pernikahan mereka itu ditanggung pihak perempuan Rp 200 juta sekian, itu diangkat terus, bikin tersinggung (Stefanus)," kata Kapolsek Tambora Kompol Iver Manossoh saat dihubungi, Minggu (6/5/2018).

Iver menyatakan biaya pernikahan itu yang selalu diungkit oleh Laura. Stefanus merasa direndahkan mengenai hal itu sampai akhirnya terjadi cekcok antar keduanya. Dia kalap membunuh Laura lalu membakarnya di Tangerang. Tentu saja aksi Stefanus tak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.

"Setiap berantem, tersinggung, seolah-olah dia tidak berharga di depan calon istrinya. Selalu diungkit, seolah-olah dia tidak punya apa-apa. Itu yang bikin dia marah sampai nggak bisa kendalikan marah," papar dia.

Menurut Iver, Stefanus sendiri bekerja secara serabutan. Dia tidak mempunyai pekerjaan tetap.

"Dia hanya kerja Grab online kadang dia narik penumpang, kadang dia jual online, jual barang online. Serabutan kadang-kadang dia jual beli online, kadang narik Grab online, belum ada pekerjaan tetap, dia masih muda," imbuh Iver.

Orang Tua Laura Sangat Kaget 

Usman Ali Musa selaku Ketua RW 02 Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat mengatakan orang tua Laura (41) sangat kaget saat mengetahui anaknya dibunuh oleh kekasihnya bernama Stefanus (24). Orang tua baru mengetahui anaknya tewas saat polisi mendatangi rumahnya pada Jumat (6/5) lalu.

Usman mengatakan awalnya dirinya didatangi polisi. Dia diminta mendampingi polisi untuk melihat lokasi pembunuhan Laura di rumahnya.

Namun Usman mengaku tak tahu tentang keberadaan keluarga Laura di rumahnya. Dia menyebut polisi membawa kunci rumah yang diserahkan oleh Stefanus.

"Sebetulnya kita nggak tahu di rumah itu ada orang apa enggak, soalnya polisi itu bawa kunci. Mungkin itu kunci dari si pelakunya. Pelaku juga sudah ngaku. Polisi bilang ini kejadiannya di rumah TKP," ujar Usman saat ditemui di rumahnya di Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (6/5/2018).

Usman dan sejumlah polisi itu kemudian masuk ke rumah Laura. Setelah itu, dia menemui keluarga Laura yaitu ayah dan kakaknya. Polisi kemudian memberikan penjelasan soal kejadian pembunuhan tersebut.

Ayah Laura kaget saat mengetahui pembunuhan itu. Dia menyatakan Laura tak pulang ke rumah selama 3 hari.

"Ya reaksi orang tua kaget juga, kalo dilihat karena dia bilang anak perempuannya nggak pulang-pulang udah 3 hari. Rabu pagi mobil ada berarti anak saya masih ada, dari Rabu malam sampai Jumat dia nggak pulang-pulang," tutur Usman.

Selain itu, Usman menerangkan polisi kemudian masuk ke kamar Laura. Polisi menemukan bercak darah dan sarung tangan di depan kamar tersebut.

"Polisi datang Jumat malam, polisi langsung mengarah ke kamarnya. Polisi menemukan ada bercak darah, ada sarung tangan di depan kamar (masih belum diketahui sarung tangan dipakai oleh pelaku atau tidak) dianggap barang bukti. Dibawa enggaknya kan saya nggak tau soalnya belum olah TKP," imbuhnya..

Sosok Laura di Mata Tetangga

Seorang warga bernama Ariyanto (45) bercerita soal sosok Laura (45), yang dibunuh dan dibakar oleh kekasihnya Stefanus (25). Ariyanto menilai Laura merupakan perempuan yang ramah kepada warga sekitar.

"Si cewe emang baik, ramah tamah. Kalau sama cowonya nggak pernah tahu," kata Ariyanto yang juga menjadi juru parkir di dekat rumah Laura di Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (6/5/2018).

Ariyanto sebenarnya tak mengetahui soal pembunuhan Laura di rumahnya. Dia baru mengetahui Laura tewas setelah informasi tersebut beredar di media massa.

"Saya tahunya ini pas baca koran, saya kaget ini orang kenal sama orangnya juga alamatnya," tutur dia.

Dia juga berpikir Laura dan Stefanus telah menikah. Menurut Ariyanto, Stefanus sempat beberapa kali tidur di rumah Laura.

"Saya pikir udah suami istri kan atau udah kawin kita kan nggak tahu sifat pribadi masing-masing," ujar dia.

Kata Ariyanto, Laura tinggal di rumahnya bersama ayahnya dan tiga orang saudaranya. Rumah tersebut sekarang tampak sepi dan tak terurus.

Foto Mesra

Salah satu foto yang diunggah Stefanus, saat Laura yang berdiri di belakang Stefanus sambil mencium pipi kirinya dengan latar belakang masih di meja bartender.

Stefanus dan Laura memang kerap keluar malam dari rumahnya. Hal ini diutarakan Yanto, pesuruh yang tinggal berdekatan dengan rumah Laura. Ia menyebutkan kalau Laura baru bangun dari tidurnya siang hari.

Bungsu dari tiga bersaudara itu sering terlihat keluar dari rumah pada malam hari. Biasanya, ia keluar dengan dijemput sang kekasih.

"Non Laura mainnya malem, kadang dijemput sama cowoknya," ujar Yanto, yang selalu disuruh Laura membelikan rokok, Minggu, 6 Mei 2018.

Stefanus banyak mengumbar foto mesra dirinya bersama sang kekasih. Setidaknya lebih dari 10 mesra yang diunggah Stefanus di media sosialnya. Bukan hanya foto, pengakuan tulus rasa cinta yang begitu mendalam pun ditumpahkan ke dinding media sosialnya.

Hubungan asmara Stefanus dengan Laura memang belum sampai 1 tahun. Meski kisah asmaranya sudah berjalan 9 bulan, hanya saja Stefanus terlihat kurang akrab dengan Hartanto, orang tua Laura.

Bahkan, Stefanus kerap menghindari orang tua Laura saat bertemu di rumahnya.

Selain itu, kata Yanto, Stefanus juga memiliki kebiasaan buruk yang kerap menginap di kediaman Laura. Bukan hanya itu, Stefanus juga memiliki kunci pagar depan sendiri sehingga bisa membuka sendiri saat masuk ke dalam rumah kekasihnya.

"Cowoknya punya kunci pagar rumah non Laura. Tiap dateng ke rumahnya, kalo non Laura lama keluar, dia sendiri yang turun terus bukain pagernya. Engga tahu juga dia dapet kunci pagarnya dari mana, engga tahu dari non Laura engga tahu dia sendiri yang ngeduplikat kunci pagarnya," imbuh Yanto.

Sumber: Detik.com, Kriminologi.id

Loading...

Leave a Comment