Lagi! Tak Menggubris Larangan Kades Dan Penolakan KUA, Pernikahan Bocah SD Di Sinjai Tetap Digelar. Keluarga Malah Bangga.

Lagi-lagi pernikahan dini menggemparkan masyarakat Sulawesi. Sebelumnya, sempat heboh pernikahan antara bocah SMP, kali ini kembali dihebohkan lagi dengan berita pernikahan bocah SD di Balangnipa, Sinjai, Sulawesi Selatan.

Mempelai wanita dalam pernikahan tersebut berinisial RSR yang masih berusia 12 tahun dan mempelai prianya bernama Erwin yang telah berusia 21 tahun. 

RSR diketahui masih berstatus sebagai siswi Sekolah Dasar (SD) 125 Karampue, Sinjai Utara, Sulawesi Selatan. RSR masih duduk di kelas VI SD dan baru saja melaksanakan Ujian Nasional sebelum menggelar acara pernikahannya.

Loading...

Kabarnya, pernikahan dini tersebut telah mendapat penolakan dari pihak KUA setempat. Terang saja, usia RSR yang masih dibawah umur tentu melanggar UU Perkawinan pasal 7 ayat 1 UU nomor 1 tahun 1974. 

Dengan alasan yang sama, Lurah Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara Muh Azharuddin Al Anshari juga melarang acara pernikahan anak dibawah umur tersebut di desanya.

"Kalau mau nikahkan anaknya jangan di Sinjai karena itu di bawah umur," kata Lurah Balangnipa Sinjai, Muh Azharuddin Al Anshari, Senin (7/5/2018).

Azharuddin mengaku, pihaknya telah melarang digelarnya pernikahan yang melibatkan bocah dibawah umur tersebut. Namun, orang tua RSR tetap bersikukuh menggelar pernikahan anaknya tersebut.

"Kami sudah tegur langsung orang tua mereka Basri dan Sinar agar tidak menikahkan anaknya." tambah Azharuddin.

Karena larangan tersebut, orang tua SRS, Basri dan Sinar, akhirnya tetap menggelar acara pernikahan putrinya di kediaman mempelai pria di Kecamatan Taroang, Jeneponto.

Menurut mereka, pernikahan antara SRS dan Erwin bukan merupakan paksaan, namun karena keinginan keduanya yang ternyata telah lama berpacaran. Pernikahan itu juga bertujuan untuk menjaga nama baik keluarga.

"Ini alasan budaya demi menjaga Siri' (malu), nama baik keluarga," kata Sinar sebagaimana dilaporkan CNNIndonesia TV, Selasa (8/5).

Sinar menambahkan, pernikahan dini sudah merupakan tradisi di keluarga besarnya. Bahkan, menjadi sebuah kebanggaan jika sebuah keluarga bisa menggelar resepsi pernikahan, meskipun mempelainya seringkali masih dibawah umur.

"Bukan tradisi sih sebenarnya. Tapi menjadi kebanggaan bila ada keluarga yang bisa melaksanakan acara resepsi," kata Suherman (51) salah seorang tokoh masyarakat.

Suherman menambahkan jika masyarakat Rampa memiliki kebiasaan untuk menikah muda, bahkan saat usia mempelai masih jauh di bawah umur. Hal ini didasari kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anaknya, terlebih anak perempuan. 

Selain itu faktor ekonomi juga turut menjadi penyebab maraknya pernikahan dini di wilayah Sinjai. Dengan menikahkan anaknya, orang tua akan terbebas dari tanggung jawab menafkahi anaknya, karena nantinya akan di tanggung suaminya.

"Jadi tiga poin itu. Karena gaya hidup, faktor ekonomi dan kekhawatiran. Menjadi alasan kenapa anak di sini banyak yang menikah muda" pungkas Suherman.

 

Sumber: Tribunnews.com

Loading...

Leave a Comment