Ironis, Jadi Korban Pelecehan, Guru Honorer, Baiq Nuril, Malah Dipenjara 6 Bulan Dan Didenda Rp 500 Juta.

Setelah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung (MA), nama Baiq Nuril seketika menjadi perbincangan publik hingga menjadi perhatian berbagai kalangan, mulai dari artis hingga pemerhati hukum.

Mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram tersebut dinyatakan bersalah karena dianggap menyebarkan rekaman bermuatan kesusilaan dan dihukum enam bulan penjara serta denda Rp500 juta dalam putusan kasasi MA.

Dengan adanya putusan ini, Baiq Nuril merasa diperlakukan tidak adil oleh hukum. Pasalnya, dirinya merupakan korban dari pelecehan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram. Selain itu, putusan dari Pengadilan Negri Mataram pun menyatakan ia tak bersalah.

Loading...

Perlakuan tak menyenangkan tersebut kabarnya ia terima sejak pertengahan 2012. Saat itu, Baiq masih berstatus sebagai Pegawai Honorer di SMAN 7 Mataram. Satu ketika dia ditelepon oleh M.

Perbincangan antara M dan Baiq berlangsung selama kurang lebih 20 menit. Dari 20 menit perbincangan itu, hanya sekitar 5 menitnya yang membicarakan soal pekerjaan. Sisanya, M malah bercerita soal pengalaman seksualnya bersama dengan wanita yang bukan istrinya.

Perbincangan itu pun terus berlanjut dengan nada-nada pelecehan terhadap Baiq. Terlebih M menelepon Baiq lebih dari sekali. Baiq pun merasa terganggu dan merasa dilecehkan oleh M melalui verbal. Tak hanya itu, orang-orang di sekitarnya menuduhnya memiliki hubungan gelap dengan M.

Tak tahan dengan perlakuan M terhadapnya, ia memutuskan untuk merekam percakapannya dengan M saat keduanya terhubung melalui telepon. Baiq juga ingin membuktikan jika dirinya tidak seperti yang dituduhkan orang-orang kepadanya.

Meski demikian, Baiq tidak pernah melaporkan rekaman itu karena takut pekerjaannya terancam. Namun, ada satu orang yang rekan kerja yang ia beri tahu tentang masalah tersebut. Ia adalah Imam Mudawin.

Imam kemudian menyebarkan rekaman tersebut ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Mataram. Diketahui, penyerahan rekaman percakapnnya dengan M hanya dilakukan dengan memberikan ponsel.

Proses pemindahan rekaman dari ponsel ke laptop dan ke tangan-tangan lain sepenuhnya dilakukan oleh Imam. 

Merasa tidak terima aibnya didengar oleh banyak orang, M pun melaporkan Baiq ke polisi atas dasar Pasal 27 Ayat (1) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Padahal rekaman tersebut disebarkan oleh Imam, namun malah Baiq yang dilaporkan oleh M.

Kasus ini pun berlanjut hingga ke persidangan. Setelah laporan diproses, Pengadilan Negeri Mataram memutuskan Baiq tidak bersalah dan membebaskannya dari status tahanan kota.

Tak terima kalah dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding hingga kasasi ke Mahkamah Agung. Singkat cerita pada 26 September 2018 lalu, MA memutus Baiq bersalah.

Petikan Putusan Kasasi dengan Nomor 574K/Pid.Sus/2018 yang baru diterima 9 November 2018 menyatakan Baiq Nuril bersalah melakukan tindak pidana, "Tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan."

baiq Nurilpun akhirnya dijatuhi hukuman 6 bulan penjara serta denda pidana sebesar Rp. 500 Juta, dengan catatan, apabila tidak bisa membayar denda maka diganti dengan hukuman kurungan selama 3 bulan.

Putusan ini menuai kritik dan jadi bahan perbincangan. Dalam rilis resminya, Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menyebut hakim seharusnya berpedoman pada Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perempuan Berhadapan dengan Hukum. Pasal 3 huruf b Perma tersebut menyebutkan hakim mengidentifikasi situasi perlakuan tidak setara yang diterima perempuan yang berhadapan dengan hukum.

Menurut ICJR, Pasal 27 ayat (1) UU ITE itu dalam penjelasannya didesain untuk penyebaran dalam sistem elektronik dan harus dikaitkan dengan pasal kesusilaan dalam KUHP. Perbuatan yang dilarang adalah penyebaran konten bermuatan pelanggaran asusila yang diniatkan untuk menyebarkannya di muka umum.

Saat ini, Baiq hanya bisa berharap hukumannya dapat diringankan dan dirinya tidak ditahan. Karena dalam faktanya, Baiq Nuril tak pernah terbukti menyebar luaskan rekaman yang dimaksud.

Loading...

Leave a Comment