Heboh Pemotongan Nisan Salib di Yokyakarta. Ini Yang Terjadi Sebenarnya.

Insiden pemotongan nisan salib yang terjadi di Yogyakarta sontak menghebohkan publik. Kejadian itu dilakukan pada nisan milik Albertus Slamet Sugihardi di pemakaman Jambon, RT 53/RW 13, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.

Cerita tentang pemotongan nisan salib awalnya diunggah oleh akun facebook Iwan Kamah sebelum akhirnya menjadi trending di media sosial. Kini, nisan Albertus Slamet Sugihardi yang tadinya berbentuk salib menjadi berbentuk T.

Ketua RW 13, Kelurahan Purbayan, Slamet Riyadi mengatakan Albertus Slamet Sugihardi meninggal pada Senin (17/12) pagi dan dimakamkan pada siang harinya. Slamet menuturkan jika apa yang diposting di media sosial itu tidaklah benar.

Loading...

Hasil gambar untuk pemotongan nisan salib

Menurut Slamet, tidak ada unsur pemaksaan dalam pemotongan nisan kayu berbentuk salib atas nama Albertus Slamet Riyadi. Menurutnya pemotongan tersebut merupakan hasil kesepakatan antara warga, pengelola makam dan pihak keluarga.

"Awalnya saat jenazah Pak Slamet mau dimakamkan sudah ada obrolan dan kesepakatan secara lisan dengan pihak keluarga. Pertama, jenazah Pak Slamet boleh dimakamkan di sana (Makam Jambon) meskipun Pak Slamet non muslim. Tetapi ada dua syarat. Pertama tidak boleh ada simbol agama dan kedua makamnya di bagian pinggir kompleks makam," ujar Slamet, Selasa (18/12).

Hasil gambar untuk pemotongan nisan salib

Letak makam non muslim yang diletakan di pinggir makam muslim bukan tanpa alasan. Menurut muslim hal itu nantinya akan memudahkan jika nantinya ada keluarga non muslim lain yang akan dimakamkan di TPU tersebut. Bisa jadi akan dilakukan pemetakan makam non muslim di tempat yang sama.

Slamet menjabarkan jika syarat dari warga tersebut pun disetujui oleh pihak keluarga. Keluarga, kata Slamet, setuju dan tak keberatan dengan syarat yang diajukan.

"Pihak keluarga sudah sepakat. Keluarga yang sudah terlanjur memesan nisan kayu berbentuk salib pun sudah setuju dengan syarat yang diajukan warga dan pengelola makam. Akhirnya, nisan kayu itu kemudian dipotong," ungkap Slamet.

Menurut slamet kesepakatan peniadaan simbol keagamaan non muslim di TPU setempat awalnya hanya berupa kesepakatan lisan saja. Namun, setelah hebohnya pemberitaan pemotongan nisan milik Alm. Albertus Slamet Sugihardi, kesepakatan tersebut dibuat tertulis.

Kesepakatan tertulis ini ditandatangani oleh Maria Sutris Winarni yang merupakan istri Albertus Slamet, dengan mengetahui dari perwakilan tokoh masyarakat yaitu Bedjo Mulyono, Ketua RT 53, Soleh Rahmad Hidayat dan Ketua RW 13, Slamet Riyadi.

Surat kesepakatan tersebut berisi tentang persetujuan serta keikhlasan keluarga Albertus Slamet Sugihardi untuk tak menggunakan simbol kristiani dalam makam Alm. Albertus. Hal itu atas saran dari pengurus makam, tokoh masyarakat dan pengurus kampung.

Loading...

Leave a Comment