Astaga, Siswi Ini Alami Kelumpuhan Setelah Dihukum Squat Jump Karena Terlambat. Begini Pengakuan Pihak Sekolah.

Salah seorang siswi di Mojokerto terancam mengalami kelumpuhan akibat melakukan hukuman squat jump sebanyak 90 kali.

Meskipun squat jump merupakan salah satu gerakan olah raga yang menyehatkan, namun, ternyata hal itu dapat berakibat fatal jika dilakukan berlebihan dan cara yang salah.

Dampak buruk tersebut kini harus ditanggung seorang siswi kelas XI SMA di Kabupaten Mojokerto, yang mengalami cedera parah pada syaraf tulang belakang.

Loading...

Cedera itu ia alami setelah sebelumnya ia mendapat hukuman squat jump sebanyak 90 kali dikarenakan terlambat saat mengikutu kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.

Akibatnya, Siswi bernama Mas Hanum Dwi Aprilia itu bahkan sampai tidak bisa berjalan dan berpotensi mengalami kelumpuhan.

Untuk menggerakkan kedua kaki dan memiringkan badan, kini dia harus dibantu orang lain. 

Saat ini korban terbaring lemah di kamar perawatan pengobatan tradisional Sangkal Putung Umi-Abi di Dusun Jarum, Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto, Kamis (19/07).

Korbanpun dibawa oleh pihak pondok pesantren ke Sangkal Putung Umi-Abi, sebuat tempat terapi pijat urat milik H. Umar Said (54), pada Rabu (18/07) petang.

Ketika ditangani, korban sempat menderita mati rasa pada kedua kaki hingga ke pangkal tulang belakang.

Ia sempat melakukan perawatan terapis pada kedua kaki korban dan di bagian tubuh yang sakit.

“Saat ditangani dia (korban) sudah tidak bisa duduk dan bergerak,” ujarnya, mengutip Grid.

Umar menjelaskan, korban mengalami penyumbatan atau gangguan syaraf tulang belakang terjepit akibat aktivitas squat jump.

Menurutnya, butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan cedera tersebut. Apabila tidak segera dilakukan penanganan penderita syaraf tulang punggung yang tertarik tersebut bisa fatal hingga dapat menyebab kelumpuhan.

“Korban tidak kuat berdiri mengeluh sakit pada bagian paha dan punggung, semoga bisa cepat sembuh,” ungkapnya.

Sugiono, ayah korban mengatakan hanya bisa pasrah terkait musibah yang dialami anaknya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini mengaku kesulitan membiayai pengobatannya.

“Saya berharap pihak sekolah bertanggung jawab terkait seluruh pembiayaan pengobatan hingga sembuh,” ungkapnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ghoits, Gus M.Rofiq Afandi, mengaku awalnya tak melihat gejala aneh yang dialami siswinya itu.

Namun, tiba-tiba saat sholat shubuh, korban tak bisa bangun dari sujudnya dan mengeluh kesakitan.

Kejadian itu sejatinya telah terjadi sekitar semonggu yang lalu, saat itu korban mendapat hukuman skot jump karena datang terlambat ketika mengikuti Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di sekolahnya pada Jumat (12/07).

“Anaknya (korban) sudah selesai menjalani hukuman 60 skot jump tetapi karena ada temannya yang tidak menjalani hukuman maka hal itu ditanggung korban sebanyak 120 kali. Ia bisa melakukan sekitar 90 kali skot jump dan sudah tidak sanggup lagi,” bebernya.

Gus Rofiq mengatakan, hukuman untuk kelompok ekstrakuriler Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) yang terlambat sebenarnya adalah membaca ayat Alquran.

Namun entah siapa yang memulai, hingga akhirnya disepakati hukuman fisik berupa squat jump.

Sementara itu, Nurul Wakhidah, Kepala Sekolah tempat korban belajar menjelaskan, hukuman squat jump yang dijalani siswinya hingga menyebabkan tidak bisa bergerak, di luar sepengetahuannya.

“Kegiatan itu saat liburan sekolah sehingga tidak terjadwal kami tidak tahu,” terangnya.

Nurul menambahkan jika hukuman squat jump itu merupakan permintaan para siswa sendiri lantaran tak mau di hukum membaca Al-Qur'an. 

“Insyaallah begitu, sudah diingatkan sama seniornya kalau hukuman fisik squat jump keras tetapi anggotanya meminta seperti itu,” bebernya.

Menurut dia, saat itu anak didiknya melakukan hukuman squat jump. Korban melakukan 60 skot jump hingga selesai.

Namun korban menanggung hukuman temannya sekitar 90 skot jump hingga fisiknya tidak kuat seperti itu.

“Dia (korban) sempat jalan-jalan dan melanjutkan kegiatan, tidak langsung jatuh sakit. Setelah itu baru terasa ketika ia selonjoran akan beranjak kaki terasa berat,” imbuhnya.

Menanggapi kejadian tersebut, pihak sekolah memperingatkan agar tidak lagi menggunakan hukuman fisik untuk pelanggaran.

Selain itu, ppihaknya juga mengaku telah menyumbang bantuan pengobatan untuk korban sebesar Rp 1 Juta.

“Kegiatan itu berada di sekolah meski tidak sepengetahuan kami tetap akan membantu pengobatan hingga sembuh,” pungkasnya.

 

Sumber:MANAberita.com

Loading...

Leave a Comment