5 Cara Ampuh Redakan Migrain Tanpa Obat

Migrain yang menyerang bisa hambat aktivitas. Apalagi ketika Anda sedang bekerja dan tidak sempat membeli obat, produktivitas bisa terganggu.

Secara ringkas, migrain terjadi karena aliran darah ke otak tidak seimbang. Bisa jadi aliran darah terlalu cepat, atau bahkan terlalu lambat, dan menyebabkan pembuluh darah menyempit.

Dengan menyempitnya pembuluh darah, maka aliran darah melambat hingga migrain bisa terasa lebih reda. Sebab, untuk meredakan migrain pada prinsipnya aliran darah harus lebih ditenangkan.

Lalu apa saja cara ampuh untuk meredakan migrain tanpa obat? berikut 5 di antaranya:

1. Tidur

dr Muhammad Rhadian Arief, SpBS dari RS Medistra mengatakan tidur merupakan cara alami untuk meredakan migrain. Ketika tidur, orang akan beristirahat dan membuat tekanan pada pembuluh darah penyebab migrain menjadi berkurang.

"Tidur pada prinsipnya untuk menjauhkan seseorang dari aktivitas yang bisa menimbulkan tekanan atau menjadi stresor bagi dia. Dengan tidur, kita menurunkan kerja jantung, sirkulasi darah, dan juga metabolisme tubuh," kata dr Andra, beberapa waktu lalu.

Berapa lama waktu tidur yang dianjurkan? Menurut dr Andra tidak ada patokan, tergantung kebiasaan dan kebutuhan masing-masing orang. Intinya, dengan tidur seseorang bisa terhindar dari aktivitas atau sesuatu yang menimbulkan tekanan baginya. Dengan tidur pun, akan terjadi proses relaksasi sehingga kerja jantung serta aliran darah lebih lambat.

2. Jalan Kaki

Selain tidur, olahraga juga disarankan untuk meredakan migrain. dr Andra mengatakan, olahraga ringan seperti jalan kaki bisa memicu kerja jantung dan pembuluh darah lebih baik sehingga aliran darah lebih seimbang.

Ketika berolahraga, tubuh akan melepas hormon adrenalin yang disebut dr Andra merupakan zat paling efektif untuk membuat tubuh segar kembali. Jalan kaki efektif bagi pekerja kantoran yang terserang migrain ketika mereka bekerja.

Selain berolahraga, sekadar berjalan kaki bisa membuat seseorang terhindar dari suasana atau aktivitas yang menjadi stresor baginya, meski hanya sejenak.

3. Rendam kaki di air

Beberapa orang ada yang merendam kakinya dengan air hangat atau dingin dengan tujuan membuat kaki lebih rileks. dr Andra mengatakan memang hal ini bisa saja bermanfaat.

Ketika merendam kaki dengan suhu ekstrem, baik dingin atau panas diharapkan bisa meredakan migrain, dr Andra berpendapat cara tersebut lebih condong sebagai bentuk pengalihan rasa nyeri. Dengan kaki dirangsang suhu ekstrem, seluruh tubuh akan merasa sensasi kedinginan atau agak kepanasan dan memang bisa mengalihkan rasa nyeri yang dialami.

"Umumnya memang kalau kaki direndam air hangat untuk melebarkan pembuluh darah di kaki dan diharapkan aliran darah lebih lancar, lalu aliran darah ke jantung meningkat sehingga jantung punya volume yang cukup untuk mengirim darah ke otak," tuturnya.

4. Kompres es di tengkuk

dr Andra menjelaskan sumber darah di otak berasal dari jantung yang dialirkan melalui pembuluh darah yang terdapat dua buah di bagian depan yakni arteri karotis, dan dua buah di bagian belakang yaitu arteri vertebralis. Saat aliran darah di keempat pembuluh darah tersebut tidak seimbang, maka muncullah migrain.

"Kalau dihubungkan bisa jadi dengan mengompres es di tengkuk itu kan menimbulkan sensasi dingin. Nah, efek dingin ini ke pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menyempit," tutur dr Andra

5. Meditasi

Para peneliti dari Wake Forest Baptist Medical Center mengamati khasiat program meditasi dan yoga yang dikenal sebagai Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) dalam mengobati migrain. Mereka menemukan bahwa meditasi sebagai bentuk terapi benar-benar dapat membuat otak lebih baik sehingga berpotensi membantu orang mengatasi migrain.

"Saya berpikir apakah yoga dan meditasi benar-benar memiliki manfaat baik untuk tubuh, terutama efeknya pada otak. Saya ingin tahu bagaimana cara kerjanya. Dan ternyata saya dapat merasakan bahwa yoga dan meditasi meningkatkan fleksibilitas dan fokus serta membuat kita merasa lebih baik dalam kehidupan sehari-hari," ucap Dr Rebecca Erwin Wells.

Studi lain menemukan bahwa meditasi selama delapan minggu secara signifikan mengubah bagian otak yang biertugas mengolah informasi. Nah, inilah salah satu alasan mengapa para peneliti percaya bahwa meditasi dapat meningkatkan memori dan empati, dan mengurangi stres. Tak hanya itu, penelitian lain menemukan bahwa kesadaran dan meditasi dapat meningkatkan kualitas tidur pada orang-orang yang berusia lanjut. Bahkan, efek meditasi dinilai lebih baik ketimbang konsumsi obat tidur.



Leave a Comment